Senin, 30 Juni 2014

Membedakan Jenis Kelamin Dan Merawat Cucak Jenggot



Untitled-1Ciri-ciri Cucak Jenggot Jantan :
1. Postur tubuh  jantan cenderung lebih panjang dan lenjang,
2. Bentuk kepala tampak besar dengan bentuk paruh yang lebih panjang dan tampak kokoh,
3.Leher cenderung lebih besar dan panjang serta tampak kekar. Ketika melenggok hanya lehernya saja tidak disertai dengan  pergerakan badannya.
4. Ekor cenderung lurus satu garis dengan tengkuk dan punggung dalam berbagai posisi. Baik dalam posisi tenang maupun sedang berkicau.
5. Lingkar mata cenderung lebih besar dan tampak liar.
6. Rentang sayap keseluruhan bisa mencapai 32 – 33 cm, dngan panjang ekor mencapai 9 – 10 cm.
7. Tulang supit lebih rapat.
8. Kicauan  jantan lebih bervariasi atau  tidak monoton, sebagian besar variasi kicauannya dilantunkan dalam bentuk griwikan, akan tetapi dalam volume full kicauannya hanya sebatas besetan saja.
9. Perilaku Cucak Jenggot jantan, akan membusungkan dadanya ketika melihat atau di pertemukan dengan cucak jenggot lainnya.
Sedangkan ciri-ciri Cucak Jenggot betina :
1. Postur tubuh cenderung lebih pendek dan tampak buntat atau bulat.
2. Bentuk kepala cenderung lebih kecil dengan bentuk paruh agak pipih.
3. Lingkar mata tampak lebih kecil.
4. Bentuk leher agak pendek dan ketika  melenggok selalu disertai pergerakan tubuhnya.
5. Bentuk ekor tampak lebih pendek dan tampak melengkung mendekati tangkringan, terlebih ketika dalam posisi tenang atau tidur.                                                                                              Rentang sayap keseluruhan hanya mencapai 28 – 30 cm, dengan panjang ekor hanya 7 – 8 cm.
6. Tulang supit lebih renggang, terlebih lagi kalau cucak jenggot betina tersebut pernah bertelur.
7. Kicauan cenderung monoton, hanya saja sebagian besar variasi isiannya dilantunkan dalam  volume yang full.
8. Jika dalam usia matang, betina akan bertelur, terutama jika diberi Extra Fooding yang berlebih.
Cucak-Jenggot-Ronggolawe 
Adapun cara perawatan Cucak jenggot yang banyak di terapkan, adalah sebagai berikut :
1. Diawali dari pemilihan jenis kelamin, namun untuk kali ini berbeda, jika untuk kebanyakan jenis burung lain yang rajin adalah burung jantan namun untuk Cucak Jenggot justru yang betina, seperti halnya Love Bird juga yang lebih rajin adalah yang betina.
2. Mandikan burung setiap pagi sekitar jam 7-8an dengan menggunakan sprayer atau di masukan kandang tempat mandi khusus, dan ke dalam air mandinya di campurkan shampo
Merk JATI JAJAR dengan perbandingan 2 tutup shampo untuk 1 liter air mandinya. Sekalian membersihkan kandang, ganti air minum dan tambah makanan
3. Jemur selama kurang lebih 1-2 jam
4. Setelah dijemur, tambahkan vitamin merk EbodVit ke dalam air minumnya
5. Sediakan makanan buah-buahan seperti pisang kepok, pepaya dan juga buah lainnya yang diolesi madu, dan tambahkan voer yang berkualitas merk Ronggolawe
6. Berikan Extra Fooding berupa jangkrik setiap pagi dan sore 3 – 5 ekor, selingi dengan ulat hongkong cukup satu sendok makan untuk 2-3 hari sekali, dan berikan juga kroto sebanyak 1 sendok teh
7. Lakukan pemasteran suara sesuai selera dan yang sesuai untuk masteran Cucak jenggot (Contoh : suara burung Gereja tarung, jalak suren, Cililin, kenari, Ciblek dan lain-lain)
8. Sedikit tambahan, bahwa tips di sini tidak mutlak harus dilakukan secara persis karena terkadang stelan perawatan tergantung kebiasaan si burung itu sendiri.

Perawatan murai batu mabung ala SKL BF



Burung murai batu yang mendekati masa mabungnya akan terlihat dari penampilan bulu-bulunya yang sudah mengering. selain itu juga bisa terlihat dari perubahan perilaku yang mencolok, yaitu lebih sering berdiam diri dengan leher yang ditekuk sehingga terlihat seperti burung yang sedang sakit, tetapi perbedaannya adalah nafsu makan mereka tetap sama dan tidak ada perubahan, juga kotoran burung yang tetap terlihat bagus ( keras dan tidak berair atau berak kapur ). ciri yang paling umum adalah burung murai batu tersebut jarang berkicau.

Jika kita melihat hal tersebut terjadi ( tanda burung mau mabung ) pada burung murai batu dirumah, maka tindakan yang paling dianjurkan adalah memberikan full kerodong pada murai tersebut dan untuk sementara selama proses mabung berlangsung burung tidak dimandikan ataupun di jemur, sambil tetap dipantau perkembangan kesehatannya.

Lalu, bagaimana perawatan mabung yang sudah dilakukan oleh Shakila Bird Farm (SKL BF) ini, silahkan simak langkah-langkahnya seperti yang tertulis di website SKL BF.

Langkah-langkah yang biasa dilakukan adalah :
  • Memberian Full Kerodong
  • Jika memungkinkan pisahkan burung dari keberadaan burung sejenis ataupun suara burung sejenis agar proses mabung tidak terganggu 
  • Berikan pemasteran ulang , karena saat-saat mabung inilah burung akan lebih banyak terdiam dan pendengaran mereka serta daya ingat mereka akan menjadi lebih tajam selama masa mabung, jadi bisa kita manfaatkan dengan menyempurnakan isian murai batu tersebut.
  • (Maaf ini versi kami dan siburung mau makan voer) Kami STOP untuk sementara dengan pemberian krotonya. Kroto salah satu EF yang memiliki kandungan nutrisi tinggi terutama  proteinnya. Praduga kami kroto bisa menghambat proses mabung siMB, maksudnya tidak lain supaya ambrolnya bagus brol begitu. Juga menghindari overwight karena selama mabung otomatis siburung seolah-olah kita sekap alias tidak banyak aktivitas didalam sangkarnya.
  • Lain halnya dengan di habitatnya yang masih harus terbang kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan makannya sehingga masih dibutuhkan nutrisi untuk asupan kalorinya. Sekalian untuk menetralisirkan tubuhnya dari segala macam bentuk doping, meskipun kroto masih termasuk kategori doping ringan.
  • Pemberian kroto mulai diberikan lagi apabila bulu ekor sudah jatuh semua dan mulai tampak bulu ekor yang barunya, kira-kira 0,5 cm.
  • Pemberian jangkrik kita turunkan, misalnya awalnya pagi 5 ekor dan sore 5 ekor menjadi 3 ekoran saja. Kalau setingan harianya sudah masing-masing 3 ekor jangan diturunkan lagi.
  • Hindari pemberian ulet Hongkong selama proses mabung, jadi cukup jangkrik dan voer saja, DIJAMIN tidak akan mati dengan penyebabnya kekurangan makanan.
  • Ada yang bertanya, “Lho Om nanti burungnya bisa ngedrop?”, justru itu yang kita harapkan agar proses mabung/turun bulunya bisa lebih cepat. Logikanya dengan perubahan menu makanan yang drastis diharapkan metabolisme burung terganggu sehingga kondisi bulu yang sudah kering/tua diharapkan akan ambrol.
  • Sangkar dibersihkan cukup setiap 4 hari sekali, air minum perlu diganti setiap hari.
  • Usahakan jangan sering sering melihatnya karena MB yang sedang menjalani proses mabung membutuhkan ketenangan yang full.
  • Kapan boleh memandikan MBnya? Selama bulunya masih lagi ngerotokin lebih baik jangan dimandikan dulu supaya proses mabungnya berjalan lebih cepat selain itu biasanya siburung juga tidak mempubyai selera untuk mandi karena kondisinya lagi kurang fit.
  • Kami mulai memandikannya jika ekor barunya sudah mulai tumbuh panjang sekitar 5 cm, itupun hanya 1 minggu sekali saja dan melihat kondisi burung serta cuaca juga.

Salah satu yang harus diperhatikan adalah, bahwa pada saat burung mabung, mereka membutuhkan asupan nutrisi yang banyak yang sayangnya tidak bisa didapatkan secara maksimal pada burung-burung yang berada didalam sangkar, oleh karena itulah pemberian multivitamin tambahan wajib diberikan pada burung untuk membantu mereka mengatasi masa mabung dengan sempurna. 


Sumber : http://www.agrobur.com

Kapan Burung Murai Siap di Lombakan



Bagaimana ciri ciri muray batu yang sudah siap lomba? itu pertanyaan yang sering diajukan di forum komunitas burung disebuah jejaring sosial, sebelumnya mari kita mengetahui lebih dahulu bagaimana karakter dari burung muray batu ini. Murai batu ( copychus malabaricus) adalah salah satu keluarga dari jenis Turdidae atau sikatan dan jenis ini termasuk salah satu jenis burung yang mampu berkicau dengan merdu, berirama dan penuh variasi dengan suaranya yang khas.
Tidak hanya itu murai batu juga dikenal karena gayanya yang atraktif dan memukau terlebih dengan naluri tempurnya yang selalu berkobar koba.
Murai batu yang sudah siap dilombakan bisa dikenali dengan ciri ciri sebagai berikut:

1. Usia harus sudah mapan, dengan begitu mentalnya pun bisa stabil dan sifat fighternya tinggi, usia yang siap lomba minimal 2 tahun
2. Gayanya yang mulai ngeplay dengan kepala keatas penuh kewaspadaan, energik dan sangat sensitif terhadap suara suara yang mengganggu,
3. Murai Batu lebih dominan dengan suara yang berulang (ngeban) dengan intonasi yang kuat, keras sampai terlihat tubuhnya bergetar sewaktu berbunyi.
4. Murai Batu terdengar rajin mengeluarkan suara suara isian dengan intonasi keras saat mendengar suara suara aneh.
5. Murai batu terbiasa dengan suasana keramaian, karena seperti halnya kacer ada juga muray batu yang gacor dirumah tetapi begitu dibawa ke lapangan malah membisu tidak mau bunyi.
6. Bentuk fisik terlihat proporsional, tidak gemuk dan tidak kurus.
murai batu sudah terbiasa dibawa trek dengan burung murai lainnya dengan jumlah lebih dari tiga burung, agar burung tidak demam panggung begitu dibawa ke arena lomba dengan peserta yang banyak dan juga tidak terlalu galak.
7. Kotoran yang terlihat kecil dan kering, serta sering disertai adanya muntahan kering bekas makanannya. 











Dengan melihat ciri dan kondisi seperti diatas, burung murai batu bisa dikatakan sudah siap untuk dibawa ke lapangan, mengenai aksi dan penampilannya tentu saja tergantung dari rawatan kitanya. semoga bermanfaat.

Sumber :  http://www.agrobur.com

Minggu, 29 Juni 2014

Lomba Burung Berkicau, Minggu, 6 Juli 2014, di Arena Lomba Burung Berkicau POLDER AIR HITAM, Samarinda


Merawat lovebird muda agar siap lomba

Beberapa waktu lalu harga jual lovebird memang sempat mengalami penurunan, dan hal tersebut dimanfaatkan oleh banyak kicau mania dengan mencoba membeli dan  memelihara burung lovebird sebelum harganya kembali stabil. Sebagian para penggemar burung lovebird ini memeliharanya untuk tujuan lomba atau sekedar klangenan, namun tidak sedikit pula penggemar burung ini yang mengaku belum mengetahui bagaimana cara menjadikan burung lovebird miliknya menjadi lebih aktif dan rajin bunyi. 

 

Nah, untuk panduan bagi anda yang baru saja membeli dan memelihara burung lovebird, berikut beberapa tips seputar perawatan lovebird muda agar rajin bunyi.

Untuk burung lovebird yang masih berusia muda atau yang berusia di bawah 4 bulan pada umumnya mereka masih dalam tahap belajar bersuara. Secara umum burung lovebird yang masih dalam usia tersebut biasanya sudah memiliki kemampuan untuk bersuara ngekek, namun masih belum maksimal dan cenderung dibawakan dengan terbata-bata, hal tersebut masih dianggap wajar, karena setelah berusia lebih dari 5 bulan atau setelah dewasa, burung akan menggunakan suara kicauannya itu untuk mendapatkan perhatian dari burung betina yang akan menjadi pasangannya.

Tugas kita jika memiliki burung lovebird yang masih muda adalah dengan memberikannya pelatihan agar burung tersebut memiliki stamina yang cukup dan terpancing untuk lebih rajin berbunyi. Beberapa cara yang biasa dilakukan oleh para penggemar lovebird adalah :

Rutin memandikan burung hingga basah kuyup

Memandikan burung lovebird hingga basah kuyup dipercaya bisa meningkatkan stamina burung yang bisa membuatnya lebih rajin berbunyi dengan suaranya yang panjang. Memandikannya juga tidak sembarangan dan harus disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku di kalangan lovebird mania. Salah satu tips memandikan burung lovebird hingga basah kuyup adalah sebagai berikut:
Pada pagi hari sekitar pukul 07:00 burung tersebut disemprot hingga basah menggunakan semprotan mandi atau sprayer, atau menggunakan karamba atau bak mandi jika burung terbiasa mandi di karamba atau bak mandinya, yang terpenting di sini adalah burung harus benar-benar dalam kondisi basah kuyup.
Setelah itu burung dijemur hingga pukul 10:00 siang, sampai kemudian burung itu diangin-anginkan hingga beberapa waktu (5-10 menit).
Semprot kembali burung hingga basah kuyup dan dilakukan penjemuran hingga pukul 12:00 siang.
Setelah penjemuran burung kembali digantung di tempat yang teduh atau tempat yang biasanya, dan selama burung bersantai hingga sore hari anda bisa memberikan pemasteran dengan cara memutarkan suara rekaman burung atau menggantung burung masteran tidak jauh dari sangkarnya.
Dengan rutin melakukan tindakan-tindakan tersebut di atas pada burung lovebirdnya, maka dalam beberapa hari atau minggu akan di peroleh kemajuan dari burung tersebut, misalnya menjadi lebih aktif dan lebih rajin berbunyi.

Memberikan pakan yang tepat

Selain faktor latihan seperti yang disebut di atas tadi, ada faktor lain yang juga mempengaruhi kondisi dari burung, yaitu makanan yang tepat. Untuk burung lovebird yang masih muda, pemberian makan di usahakan agar lebih bervariasi, baik dari pakan biji-bijian yang biasa dikonsumsi burung seperti milet putih, pada kali ini bisa ditambah dengan pakan biji-bijian lain yang variatif, misalnya memberikan makanan milet yang terdiri dari campuran milet merah dan putih, hemp seed, pellet, kuaci dan sebagainya.


Jika burung hanya diberikan pakan milet putih saja, maka burung cenderung mengalami kegemukan selain itu dengan pakan yang seimbang, maka secara langsung kita telah berusaha untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dari burung tersebut.

Selain biji-bijian pakan lain yang turut mendukung adalah buah dan sayuran. Untuk burung lovebird yang masih muda, pakan sayuran seperti kangkung, tauge dan jagung muda bisa membantu meningkatkan birahi mereka, sehingga burung lebih cepat dewasa dan rajin berbunyi. Pakan tersebut bisa diberikan dengan cara bergantian setiap harinya.
Sedangkan untuk buah-buahannya bisa diberikan setiap satu - dua kali seminggu saja.

Faktor pendukung lainnya

Faktor pendukung yang bisa membuat burung lovebird muda menjadi lebih rajin berbunyi adalah kebersihan dan kesehatan. Dua hal tersebut cukup berkaitan, jika sangkar harian yang digunakannya selalu kotor maka burung cenderung mudah mengalami sakit. Biji-bijian yang terjatuh dan mengumpul pada bagian dasar dari sangkarnya apalagi jika menyatu dengan air dan kotorannya kemungkinan besar akan menjadi sarang bagi bakteri atau tungau yang bisa mengganggu kesehatan dari burung tersebut.
 
Selain itu faktor pendukung yang juga harus menjadi pertimbangan dalam merawat burung paruh bengkok adalah pemberian vitamin. Karena burung paruh bengkok dan juga burung pemakan biji-bijian dikenal memiliki kebutuhan yang tinggi terhadap mineral dan vitamin, sehingga dengan menyediakan keduanya kita secara langsung telah menjaga stamina burung agar tetap fit dan aktif yang akan merangsangnya untuk terus-terusan berkicau dengan rajinnya. Untuk burung jenis lovebird anda bisa memberikan suplemen vitamin seperti BirdMineral, yang bisa anda dapatkan di agen-agen omkicau terdekat.

Itulah beberapa hal yang bisa memancing dan membuat burung lovebird muda akan menjadi lebih aktif dan rajin berbunyi. Sehingga setelah berusia dewasa atau berusia di atas 5 bulan, burung tersebut sudah siap untuk dilombakan.
Semoga bermanfaat

Sumber :  http://www.agrobur.com

Banyak pemain pemula tidak tahu penilaian lomba burung

ebagian kicaumania pemula masih bingung melihat jalannya lomba burung berkicau. Sebagian besar malu bertanya. Ada yang bawa gacoan, daftar, lalu gantang burung. Setelah lomba berjalan, dia melihat burungnya mendapat bendera kecil. Dengan bangganya dia nyeletuk, “Wah, burungku dapat bendera”. Tetapi dia bingung, burungnya masuk juara atau tidak. Daripada bingung, yuk ikuti artikel yang ditulis Om Agus Sanjaya, juri lomba asal Solo yang berpengalaman di berbagai daerah termasuk di Kalimantan Timur.

Agus Sanjaya
Om Agus Sanjaya (4 dari kiri) ketika menjadi juri di Polder Air Hitam Samarinda.
-
Banyak pertanyaan dari pemula soal lomba burung, yang susah diperolehnya di lapangan, terutama karena malu dianggap pemula. Selain contoh-contoh seperti di atas, ada kejadian di mana peserta sudah pulang terlebih dulu, padahal burungnya masuk 10 besar.
Ada juga peserta yang berani bertanya kepada peserta lain, apakah burung miliknya masuk daftar juara nggak. Yang ditanya pun balik bertanya, “Lha dapat koncer nggak? Kalau dapat koncer ya masuk”.
Meski pemula, kalau sudah menjadi peserta lomba burung berkicau idealnya harus faham mengenai tata penilaian lomba. Nah, bagi yang belum faham, berikut ini beberapa panduan singkat mengenai kriteria penilaian juri dalam lombaburung berkicau.
Setiap mengikuti lomba burung, pastikan bisa hadir sampai selesai, minimal setelah petugas panitia menempelkan rekap nilai. Di situ akan terlihat kelas yang diikuti, jumlah nilainya, dan sebagainya.
Biasanya, ada 6 juri yang bertugas, dengan nilai mentok yang diberikan juri adalah 38. Nilai mentok 38 yang diberikan juri terhadap burung-burung yang layak juara ini meliputi beberapa tahap berikut ini:
  • Juri akan menilai burung-burung yang bekerja di lapangan, kemudian diberi nilai awal 37.
  • Pada putaran kedua, juri mulai mengontrol lagi jika ada burung-burung yang masih stabil bekerja. Burung ini akan mendapatkan nilai 37,5.
  • Pada putaran ketiga, juri akan menilai apakah burung tersebut masih kerja dan memiliki keunggulan irama, lagu, volume, intonasi, dan lain- lain. Burung yang masuk kategori ini akan mendapat nilai 38 atau nilai mentok.
Kalau peserta ingin tahu gaconya masuk atau tidak, cek saja berapa nilai mentoknya, kemudian lihat dengan burung-burung lainnya.
Misalnya mentok 6 ada empat ekor, mentok 5 ada dua ekor, dan burung milik Anda mentok 4. Hal ini berarti burung milik Anda berhak menjadi juara 7.
Nah, untuk bendera koncer itu sendiri ada nilainya, tergantung dari pihak event organizer (EO) yang menyelenggarakannya. Misalnya, koncer A mendapat poin 30, koncer B poin 20, dan koncer C poin 10.
Terkadang ada peserta yang nggak tahu maksud dan berapa nilai yang didapatkannya.Jadi, pemula lomba burung perlu membaca peraturan lomba burung, agar tidak bingung.
Beberapa kriteria penilaian
Juri lomba burung
Juri menilai burung berdasarkan beberapa kriteria.
-
Dalam memberikan penilaian, juri-juri akan mengacu pada beberapa kriteria berikut ini:
  • Bernyanyi merdu:irama dan lagu yang dimiliki burung saat berkicau enak didengar di telinga juri.
  • Intonasi: bagaimana burung mampu membawakan alunannya secara naik-turun.
  • Variasi lagu: bagaimana isian / tonjolan burung.
  • Volume: meliputi  tebal dan tipis suara, kencang, sedang, dan kecil.
  • Stabilitas: burung berkicau secara kontinyu, tidak naik turun, tidak ngeruji (tidak menempel pada jeruji sangkar), alias burung nagen di tangkringan.
  • Gaya: bagaimana burung bisa bergaya saat berkicau, seperti meliuk-liuk, menari, buka ekor, geleng-geleng kepala, menoleh ke kiri-kanan secara harmonis, dan sebagainya.
  • Fisik: burung tidak memiliki cacat tubuh, kaki utuh, sayap utuh, mata juga melihat.

Beberapa kriteria penilaian inilah yang sering belum diketahui beberapa pemain pemula, terutama yang baru sekali atau dua kali datang ke lomba burung berkicau.
Namun, perlu juga diingat, detail kriteria penilaian di atas berbeda-beda antara jenis burung yang satu dan jenis burung lainnya. Masing-masing kelas memiliki pakem penilaian yang tidak selalu sama dengan kelas lainnya.
Misalnya kriteria penilaian lomba di kelas cendet jangan disamakan dengan kriteria penilaian di kelas lovebird. Begitu pula penilaian di kelas kenari jangan disamakan dengan penilaian di kelas murai batu.
NB: Secara bertahap, Om Agus Sanjaya berencana membuat artikel terkait penilaian lomba per kelas / jenis burung.
Agus Sanjaya
Om Agus Sanjaya siap menjelaskan 
penilaian lomba per jenis burung.
-
Terkadang ada pemain yang menganggap semua jenis burung memiliki kriteria penilaian yang sama. Saya pernah melihat kejadian seperti ini dalam beberapa lomba burung berkicau yang berujung pada protes / komplain. Padahal semua ini bermula dari ketidaktahuan pemain tentang kriteria penilaian lomba untuk jenis burung tertentu.
Masih banyak peserta yang melihat burung miliknya saja, tetapi tak melihat kinerja burung lain. Dia merasa burungnya sudah bekerja maksimal, bunyi terus sejak awal hingga akhir.  “Lho, burung saya kerjanya stabil, kontinyu sepanjang lomba. Kok bisa kalah,” kata sang pemain.
Perlu diketahui, juri bukan hanya melihat kinerja seekor burung saja, tapi juga kinerja semua burung yang menjadi peserta pada sesi yang sama. Selain itu, juri tak hanya menilai berdasarkan satu aspek saja misalnya kestabilan burung dalam berkicau, tetapi juga mengacu pada beberapa aspek lain yang telah disebutkan dalam kriteria penilaian di atas.
Penjelasan ini dalam konteks penilaian lomba secara fairplay, karena harus diakui tetap saja ada juri-juri nakal, yang kongkalikong dengan pemilik burung tertentu. Namun, masalah ini jangan digebyah-uyah bahwa semua juri lomba seperti itu. Masih lebih banyak juri yang baik daripada juri yang nakal.

-
Jadi, perlu difahami bahwa burung yang bunyi stabil dan kontinyu tidak selalu bisa memperoleh nilai mentok, sebab juri juga harus melihat  aspek lain seperti irama, lagu, intonasi, variasi lagu, gaya, dan sebagainya.
Burung yang bergaya istimewa pun belum tentu menang, karena harus dilihat pula aspek-aspek yang lain. Jadi, penilaian lomba burung itu bersifat holistik (menyeluruh), bukan hanya satu aspek saja.
Semoga penjelasan ini bisa membuat para pemain makin dewasa, mampu memahami aturan lomba secara lebih baik, bukan sekadar mengukur pada kinerja burungnya saja, tetapi juga melihat kinerja burung-burung lain yang menjadi rivalnya.

Sumber :  http://omkicau.com

Minggu, 22 Juni 2014

Kapan burung sudah siap dilombakan?



Kapan burung sudah siap dilombakan? dari gambar grafik dibawah ini kita bisa mengetahui kapan performa terbaik burung akan siap untuk dilombakan.







Masa Mabung ( Moulting Periode)
Masa mabung burung berjalan antara 3,5 Bulan kecuali ada hal lain maka masa mabung bisa lebih panjang lagi, Untuk rata rata dalam waktu 3-4 bulan burung sudah selesai mabung itupun tergantung perawatan yang kita berikan semasa mabung.

Masa Siap lomba (Ready For Contest)
Sekitar 6 bulan lamanya dimulai setelah bulan ke 3,5 sampai bulan ke 9 setelah burung melewati masa mabungnya, periode inilah saatnya burung bisa dikonteskan atau dilombakan dan ini tentu saja tergantung kesehatan dan karakter si burung yang berbeda beda. tapi kalau di rawat dengan baik bahkan ada juga burung jawara yang setelah selesai mabung pada bulan ke 4 (empat) langsung juara lagi.

Top Performance (Top Form Periode)
Masa ini dimulai pada bulan ke-6 sampe bulan ke-9, merupakan saat yang tepat untuk mengkontestkan burung kita.

Masa sebelum mabung ( Out of form before Molting periode)
Masa sebelum mabung, setidaknya dimulai bulan ke-10. Sebaiknya burung tidak dilombakan atau distirahatkan. Jadi ada 6 bulan dimana burung kurang vit, 3 bulan persiapan mabung + 3 bulan mabung. Peiode 3 bulan persiapan mabung, banyak burung yang masih jawara. Mereka benar-bener mengistirahatkan burungnya bila sudah mabung benar.Semoga bermanfaat . 

Sumber :  http://www.agrobur.com