Rabu, 14 Mei 2014

Pemasteran burung kicauan

Tujuan dari memaster burung adalah melatih burung khususnya agar burung yang menjadi kesayangan kita bisa mengeluarkan lebih banyak variasi lagu dan nada. namun apakah 
Tujuan dari memaster burung adalah melatih burung khususnya burung yang menjadi kesayangan kita agar bisa mengenal lebih banyak suara burung – burung lain dan agar suara burung yang kita master akan menjadi lebih bervariasi dan kaya dengan suara bermacam-macam burung baik itu dari segi ngeroll ataupun tembakannya. Namun apakah masuk tidaknya suara burung masteran tersebut tidaklah lepas dari kecerdasan burung yang akan kita master dengan burung lainnya, ada beberapa burung yang sulit untuk dimaster atau menirukan burung lain bahkan tak sedikit pula burung yang dengan kecerdasannya meniru suara burung lain.
Diantara burung – burung yang rutin di masterkan dengan suara burung lain diantaranya adalah :  Trucukan, Pentet, Murai Batu, Cucak ijo, Kacer dan branjangan dan karena kecerdasannya merekam suara , burung jenis ini sering kemasukan suara tanpa tidak sengaja . namun apabila suara yang terekam tersebut adalah suara yang tidak diharapkan tentulah akan menurunkan kualitas dari burung tersebut. 
Dan biasanya para kicauan mania akan memaster ulang burung mereka disaat burung mereka mulai terlihat dalam kondisi mabung / rontok bulu, nah pada saat burung dalam keadaan rontok bulu itulah pemasteran ulang bisa diterapkan dan juga pada saat itu kondisi burung sedang mengalami penurunan sehingga suaranya pun terganggu dan alangkah tepatnya jika sewaktu proses rontok hingga tumbuh bulu berlangsung  kita mulai pemasteran burung tersebut  walaupun  kadang hasil pemasteran tidaklah seperti yang kita harapkan karena siburung bisa stress, macet bahkan bisa menjadi burung yang rusak sekali lagi perawatan burung yang sedang rontok bulu memang membutuhkan penanganan khusus dan lebih dari kita sebagai pemilik burungnya
Pemasteran tidak hanya mengisi suara nada burung tapi juga dilihat dari irama , tembakan dan karalteristik suara dari burung yang akan kita master. Pemasteran yang baik akan menghasilkan burung yang mampu bersuara bervariasi tanpa mengulang-ulang lagunya, suara yang tinggi dan kencang, serta tembakan – tembakan / cerecetan khusus yang biasa kita dengar pad burung sejenis cucak jenggot, kapas tembak dan ciblek ( oleh karena itulah jenis – jenis burung ini sangat populer di kalangan kicaumania sebagai burung master untuk burung murai batu dsb ). 

Tahapan pemasteran dibagi menjadi beberapa cara dan tekhniknya diantaranya :
- Pemasteran dengan burung lain.
- Pemasteran dengan suara dari kaset / CD / Handphone dengan fasilitas mp3
- Pemasteran dengan perangkat elektronik
Jika kita sudah mengamati dan mengenal sifat nada dan karakter suara dari burung yang
akan kita master barulah kita memilih burung masteran yang sesuai dengan karakter suara burung kita. Jangan sampai si burung yang akan kita master tidak memiliki kesamaan karakter suara maka akibatnya suara burung tersebut akan sulit dicerna oleh burung yang kita masterkan tersebut.  Sepreti misalnya jika kita memaster burung kenari maka yang pertama kita pilih sebagai burung masterannya adalah burung blackthroat hal ini dikarenakan suara burung tersebut memiliki karakter dan irama yang sama dengan burung kenari juga bisa memaster kenari dengan burung ciblek hal ini karena karakter suara burung ciblek hampir mirip dengan burung kenari terlebih dalam suara tembakannya.
Selain dari suara tembakan para kicau mania juga sering memaster burung berdasarkan variasi speed ( kecepatan suara ) yang rapat, karena hal ini akan berdampak pada kualitas burung tersebut dari segi penilaian juri – juri di setiap lat-beran ataupun menjadikan burung tersebut menjadi lebih gacor. Dan sebagai variasi terakhir bisa dicari suara burung yang memiliki irama mengayun / beralun-alun , mendayu dan meliuk-liuk , karena dengan lengkapnya varias I suara tersebut emmebuat siburung mudah ngeroll dan tanpa mengulang-ulang lagunya  serta melantun indah dengan diselingi tembakan dan speed yang rapat.

Untuk posisi pemasteran yang baik bisa dilakukan dengan cara membuat burung yang kita master merasa nyaman dan tidak terganggu oleh suara apapun hal ii bisa dengan cara menutupi sangkarnya dengan kerodong atau meletakan si burung di tempat yang teduh dan tenang dengan burung masteran berada tepat diatasnya, hal ini agar suara burung masteran terdengar lebih jelas dan juga si burung master tidak akan bis melihat burung masterannya. Ada juga yang menerapakan dengan cara memaster burung secara bersampingan namun dalam hal ini harus diperhatikan jarak antara siburung jhjangan sampai berdekatan dan lebih bagus lagi jika siburung yang akan kita master sangkarnya ditutup dahulu dengan kerodong agar si burung tidak melihat sumber suara, karena biasanya si burung akan tidak mau merekam suara burung yang terlihat oleh dirinya. 
Pemasteran dengan perangkat elektronik.
Pemasteran dengan CD ataupun perangkat elektronika lainnya bisa diiblang termasuk yang paling mudah dan murah, karena dengan hanya bermodalkan perangkat tersebut kita sudah memiliki puluhan bahkan ratusan suara-suara burung kicauan, bayangkan jika kita menggunakan burung – burung asli tentulah hal ini akan menambah biaya hanya untuk memaster seekor burung.
Namun yang harus diperhatikan disini adalah kualitas suara dari apapun jenis perangkat elektronik kita baik itu CD, MP3 ataupun perangkat elektronik lainnya, kualitas suara harus jernih tidak ber noise dan juga terdengar kencang diperangkat kita ( tape/speaker) dan tidak ngebass ataupun treeble ( standar) hal ini agar si burung mampu merekam suara dengan baik dan tidak terganggu suaranya ooleh suara-suara noise ataupun suara jelek yang terekam oleh perangkat itu tadi. 
Tekhnik pemasteran menggunakan media elektronik : simpan perangkat elektronik anda dengan jarak kurang lebih 5-7 meter dari kandang dengan volume suara standar. 

Kesimpulan :
Apapun jenis pemasteran yang akan kita terapkan pada burung kita yang harus perhatikan adalah karakter dari suara burung yang akan kita master harus sesuai dengan suara burung masteran kita.


Sumber :  http://www.agrobur.com

Minggu, 11 Mei 2014

Bagaimana Merawat Burung Yang Sakit




Tak ubahnya manusia, sebagai mahluk hidup burung pun bisa terserang penyakit, baik itu karena gangguan cuaca / suhu atau karena infeksi bakteri dan virus. Namun, terkadang masih banyak kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan oleh penggemar burung dalam upaya perawatan dan pengobatannya. Kesalahan-kesalahan tersebut justru membuat burung semakin tidak berdaya dan akhirnya tidak dapat tertolong lagi. Untuk itu penting kiranya kita mengetahui bagaimana perawatan burung yang sakit dengan tepat.

Satu hal yang paling umum ditemukan adalah ketika burung yang sakit dalam kondisi nyekukruk atau mengembangkan bulu-bulu di tubuhnya. Hal tersebut justru banyak yang disalah artikan dengan kondisi burung yang kurang jemur, padahal begitu kita menjemur burung yang sedang sakit apalagi burung yang sedang terkena infeksi ( baik pernafasan atau pencernaan) maka penyakitnya itu akan menyebar dan semakin memperparah kondisi si burung.

Ada beberapa persyaratan yang turut membantu kesembuhan burung yang sedang sakit, persyaratan-persyaratan tersebut adalah :
  • Diagnosa yang tepat.
  • Obat-obatan yang tepat.
  • Dosis yang tepat.
  • Cara pemberian obat yang tepat.
  • Penempatan burung yang tepat.
Masih banyak penggemar burung yang salah dalam mendiagnosa penyakit yang diderita oleh burung, dan malangnya hal tersebut merupakan faktor terbesar yang menyebabkan kegagalan dalam tahap penyembuhan burung peliharaan. Contohnya ketika seekor burung yang terlihat mata membengkak dan berair, masih banyak yang beranggapan burungnya tersebut mengalami infeksi ringan pada matanya, sehingga banyak yang hanya mengobatinya dengan obat tetes mata atau salep mata.

Sedangkan penyakit mata bengkak dan berair pada burung, sebagian besar adalah karena terkena penyakit snot yang terjadi karena adanya infeksi pada bagian saluran pernafasan atas yang menyebabkan munculnya ciran nanah k arah mata yang menyebabkan mata burung membengkak, ketika bengkak itulah terjadi infeksi sekunder pada mata burung yang ditandai dengan radang dan mata yang berair.

Karena itu begitu kita mendapati burung sakit, maka semestinya kita memahami terlebih dahulu apa penyakit yang sebenarnya diderita oleh burung tersebut, sehingga kita dengan mudah bisa mendiagnosa untuk kemudian memberikan pengobatan dengan obat-obatan yang tepat.

Obat-obatan dan dosis yang tepat

Setelah diketahui apa penyakit yang diderita oleh burung , maka hal berikut yang bisa dilakukan adalah memberikan obat - obatan yang sesuai. Sekarang ini kita dengan mudah bisa mendapatkan berbagai jenis merek obat-obatan serta keperluannya di pasar-pasar burung. Untuk itu kita harus jeli memilih jenis-jenis obat-obatan tersebut, pilih yang benar-benar menjadi referensi banyak penggemar burung.

Burung memiliki organ dan jaringan syaraf yang tentu saja berbeda dengan yang dimiliki oleh manusia. Pemberian dosis yang tidak tepat dan cenderung berlebihan akan merusak jaringan organ dalam dari tubuh burung. Oleh karena itu berikan dosis sesuai dengan aturan yang ditetapkan.

Masalah yang sering terjadi adalah burung yang langsung mati ketika dipegang untuk diberikan pengobatannya. Burung yang sedang sakit, mereka akan fokus berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Meski terkadang hal tersebut cukup menyulitkan mereka karena penyakit yang dideritanya terlalu berat / parah. Dengan nafas yang tersenggal dan paru-paru yang selalu dikembangkan juga adrenalin disertai tingkat stress yang terus meningkat menyebabkan burung rentan mati ketika dipegang oleh tangan manusia.

Untuk itu jika burung dalam kondisi sakit dan stress parah, maka usahakan jangan memegang tubuhnya langsung dengan tangan ketika memberikan obat-obatan, anda bisa menggunakan media lain seperti air minum, makanan atau menggunakan syringe atau spet yang langsung diteteskan pada burung.

Penempatan burung sakit

Sudah bukan rahasia umum kalau burung yang sedang sakit harus dipisahkan dari burung lainnya, dan akan lebih baik jika kita memiliki kandang khusus untuk burung sakit, yang didalamnya dilengkapi dengan kain lembut / lapisan kertas tisu pada bagian dasar sangkar, dan lampu penghangat jika burung yang sakit diluar gejala infeksi ( untuk burung yang terkena infeksi pernafasan sebaiknya hindarkan memberi lampu pemanas untuk burung, karena suhu panas bisa menyebarkan infeksi lebih parah lagi).

Selain itu jauhkan burung yang sakit dari burung lainnya untuk menghindari penularan penyakit yang dikarenakan bakteri, virus atau jamur yang bisa saja menyebar melalui udara, air minum, kotoran dan sebagainya.
Dengan memberikan perawatan , penanganan dan obat-obatan yang tepat, burung akan cepat pada kondisi penyembuhannya sehingga bisa terhindar dari resiko yang lebih fatal yaitu kematian. 

Sumber :  http://www.agrobur.com

Rabu, 07 Mei 2014

Usai mabung, burung gacor atau melempem

Mabung merupakan siklus alami tahunan yang menjadi keniscayaan pada semua jenis burung. Bagi burung yang berada di alam liar, mereka untuk menyepi di tempat tenang dan aman selama masa mabung. Sebab, selama mabung, mereka tak punya kemampuan dan energi yang cukup untuk beraktivitas secara bebas seperti masa normalnya.
Pada masa mabung, burung sangat rentan diserang oleh binatang predator alaminya, baik oleh burung berukuran besar, atau binatang mamalia dan reptil seperti ular. Karena itulah, dengan nalurinya, burung di alam liar yang sedang mabung biasanya memilih bersembunyi di tempat yang menurutnya relatif aman.
Burung yang sedang mabung
Burung kacer yang sedang mabung.
Bagaimana dengan burung piaraan di rumah ketika sedang mabung? Kondisi fisiologisnya sama seperti burung di alam liar ketika mabung. Yang membedakannya adalah tingkat keamanannya dari serangan predator, karena burung berada dalam sangkar atau kandang.
Perbedaan lainnya, burung piaraan tidak memiliki pilihan untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya, terutama protein dan energi metabolisme (kalori), yang sangat berperan dalam menjaga agar kondisinya tidak terlalu drop. Kondisi burung mabung pasti drop, tetapi nutrisi yang minimalis akan membuatnya makin ngedrop.
Di alam liar, burung mempunyai pilihan atau preferensi tertentu terhadap jenis pakan yang dibutuhkan untuk melancarkan proses mabungnya. Tetapi ketika berada dalam sangkar / kandang, dia tak punya pilihan, kecuali pasrah bongkokan atas pemberian pakan dari pemilik atau perawatnya. Jadi, kata kuncinya adalah perawatan maksimal selama masa mabung !
Ironisnya, masih banyak sobat kicaumania yang kerap menyepelekan burung yang sedang mabung. Dengan mata kepala sendiri, Om Kicau pernah melihat burung ciblek mabung tetap digantang bersama dengan burung lain seperti pleci dan trucukan. Tak sedikit pula yang memberikan suplemen yang peruntukannya bukan untuk konsumsi burung mabung.
Berdasarkan pantauan Om Kicau, masih banyak pula kicaumania yang tetap memberikan perawatan harian kepada burung: perawatan yang diberikannya sehari-hari ketika burung belum mabung. Bahkan, ada juga yang tetap berusaha memancing burung agar berbunyi, atau dilatih dengan burung sejenis.
Padahal, semua itu bisa membuat mabungnya tidak sempurna. Efeknya, masa mabung bisa molor beberapa pekan, bahkan beberapa bulan. Kalaupun masa mabungnya sudah selesai, burung malah menjadi malas bunyi atau malah macet bunyi, stres, dan makin mudah sakit.
Dulu, sebelum murai batu Natalia mati, Om Kicau pernah membahas perbedaan lama mabung yang dialami murai blacktail ini dengan Happy Birthday (silakan cek artikelnya di sini). Kebetulan keduanya memasuki masa ganti bulu hampir bareng, awal tahun 2013. Jika Happy Birthday hanya butuh waktu 1,5 untuk menyelesaikan masa mabungnya, Natalia butuh waktu enam bulan lebih. Dan, ketika masa mabungnya selesai, burung ini malah terkena penyakit pernafasan sampai kemudian mati.
Pada saat mabung, burung (apalagi burung lomba) sebaiknya diberi “cuti” dan dibiarkan beristirahat total sampai masa mabung kelar, kemudian masuk ke tahap prakondisi selama 1 bulan, setelah itu siap untuj ditandingkan kembali.
Dalam grafik performa burung di bawah ini tampak jelas penampilan burung akan menjadi benar-benar prima pada periode puncak (top form) setelah menjalani masa mabungnya dengan sempurna.
Grafik performa burung dalam siklus mabung tahunan
Grafik performa burung dalam siklus mabung tahunan
(info lebih jelas mengenai grafik performa burung bisa dilihat lagi di sini )
Penampilan puncak juga dialami kacer Rincong yang secara berturut-turut mampu menjuarai beberapa lomba yang diikutinya setelah masa mabungnya rampung. Itu karena Om Khadafi mengistirahatkan gaconya secara total, memberikan pakan dengan kadar protein tinggi, dan aktif melakukan pemasteran.Seperti dijelaskan Om Irvan Sadewa, pakar pemasteran burung, masa mabung adalah waktu terbaik untuk melakukan pemasteran.

Kacer Rincong - M Khadafi Lampung
Kacer Rincong: Usai mabung makin garang.
—-
Berdasarkan beberapa fakta di atas, terbukti bahwa perawatan maksimal selama burung mabung berpeluang membuatnya memiliki penampilan yang jauh lebih baik daripada sebelum mabung.
Masa mabung bisa diibaratkan “turun mesin” pada kendaraan bermotor. Begitu mesin selesai diperbaiki secara total, maka kendaraan pun menjadi lebih mantap saat dikendarai. Begitu pun burung, jika dirawat dengan baik selama masa mabung, penampilannya pun bisa makin ngedan. Sebaliknya, burung mabung yang tidak dirawat dengan maksimal, baik melalui asupan nutrisi kaya protein, lingkungan yang nyaman, aman, dan tenang, maka burung justru akan melempem setelah masa mabungnya selesai.
Burung habis mabung juga bisa diprediksi kualitas suaranya berdasarkan penampilan bulu-bulunya. Apabila terlihat mengkilap, segar, dan tersusun rapi, potensi untuk mencapai top form makin besar. Sebaliknya, jika bulu baru terlihat kusam dan acak-acakan, hal ini menandakan burung masih mengalami stres yang dideritanya selama masa mabung.
Seperti diketahui, penampilan bulu bagi seekor burung (terutama burung jantan) menjadi salah satu tengara mengenai kegacorannya. Jika bulu-bulunya mengkilap dan rapi, burung menjadi lebih pede ketika hendak merayu burung betina yang mau dipacarinya. Malah burung betina pun memiliki preferensi terhadap jantan yang diinginkannya, dan itu selalu mengarah pada penampilan bulu dan mutu kicauannya.
Karena itulah, perawatan burung selama masa mabung harus diperhatikan lebih serius lagi. Berikan lingkungan yang tenang, sunyi, dan aman. Berikan pakan berkualitas, dengan kadar protein dan energi metabolisme yang tinggi.

Sumber :  http://omkicau.com/

3 Hal yang perlu diketahui dalam perawatan burung anis kembang


Anis kembang
Kenali karakter anis kembang agar selalu dalam 
performa terbaiknya.
-
Hal pertama:
Tahapan-tahapan suara burung anis kembang
Burung anis kembang jantan cenderung akan berbunyi jika sudah mencapai birahi, yang diawali dengan ngeriwik dalam posisi paruh terbuka.
Setelah itu, anis kembang ngeplong sesekali, kemudian mulai bersuara ngeplong lebih rajin, terutama pada waktu dinihari (pengembunan), pagi hari, dan sore hari. Jika semua tahapan itu terlewati, barulah burung mencapai kondisi ngerol alias sudah  mapan.
Namun yang patut diperhatikan dalam tahap-tahap perkembangan suara anis kembang adalah memberi pola perawatan dan pemberian pakan yang tepat. Sebab setingan harian yang kurang tepat bisa membuat burung banyak tingkah, cenderung ngeriwik terus (ogah ngeplong), apalagi ngerol, meski sebelumnya sering bersuara ngeplong atau bahkan ngerol.
Hal kedua:
Burung jantan mudah ngeplong setelah mabung pertama
Mabung merupakan proses alami bagi semua unggas, termasuk burung. Masa mabung, terutama mabung pertama, selalu terkait dengan masa peralihan dari fase remaja ke fase dewasa.
Setelah mabung pertama, beberapa jenis burung kicauan akan lebih mudah mencapai kondisi top form (pada murai batu justru setelah mabung ketiga atau keempat). Untuk mengetahui bagaimana pengaruh masa mabung terhadap penampilan burung kicauan, silakan lihat kembali di sini.
Selama ini beredar anggapan di kalangan pecinta anis kembang, bahwa setelah burungnya melewati masa mabung pertama, maka saat itu merupakan waktu penentuan apakah burungnya berjenis kelamin jantan atau betina.
Sebagian besar anis kembang diyakini berjenis kelamin jantan jika dia sudah belajar ngeplong sekitar 1-2 bulan setelah mabung pertama. Namun jika burung tersebut memiliki kualitas bagus, misalnya pengaruh dari indukan yang bagus, maka dalam waktu 3 minggu setelah mabung pertama akan lebih rajin dengan suara ngeplongnya.
Selain itu, pascamabung pertama merupakan saat yang tepat untuk mulai memberikan perawatan harian yang diinginkan atau disesuaikan dengan setingannya.
Hal ketiga:
Bentuk tubuh dan karakter burung

Selama ini, kriteria anis kembang yang banyak dicari adalah memiliki bentuk tubuh proporsional: langsing, panjang, sayap turun ke bawah.
Bentuk tubuh seperti itu dipercaya sebagai pertanda burung lebih mudah berbunyi ngeplong atau bahkan pernah ngeplong atau ngerol.
Bentuk tubuh langsing juga memudahkan anis kembang menampilkan gaya khasnya saat bersuara ngerol, atau lebih dikenal dengan istilah gaya nyendok.
Anis kembang
Anis kembang yang gemuk (kiri) tidak akan tampil 
semaksimal burung yang langsing.
-
Sebagian dari Anda mungkin pernah atau sering melihat burung anis kembang yang memiliki bentuk tubuh terlalu gemuk. Kesan pertama yang terlihat adalah burung berjenis kelamin betina, meski sebenarnya tak selalu demikian.
Anis kembang memang mudah mengalami kegemukan, terutama pada burung yang masih dalam kondisi bakalan. Penyebabnya tidak lain pola perawatan yang kurang tepat.
Masalah yang paling umum adalah pemberian pakan buah yang tidak bervariasi. Misalnya, burung hanya diberi pisang saja setiap hari, tanpa pernah diselingi jenis buah lainnya. Begitu pula dengan perawatan mandi dan penjemurannya.
Anis kembang yang gemuk cenderung bersuara ngeriwik. Selain itu, burung cepat lelah, sehingga tak bisa bekerja secara maksimal.
Untuk mengatasi burung yang kegemukan, kita bisa melakukan treatment khusus selama beberapa pekan. Misalnya memberikan buah yang bervariasi, kroto dan cacing diberikan setiap hari, jangkrik dikurangi, dan mandi malam secara teratur.


Sumber : http://omkicau.com

Minggu, 04 Mei 2014

Perawatan burung kicauan selama musim pancaroba dan kemarau

Musim pancaroba yang melanda sebagian wilayah Indonesia membuat para penggemar burung, khususnya pemula, merasa gelisah. Sebab perubahan cuaca yang cukup ekstrem bisa memberikan efek kurang baik bagi burung peliharaan. Pancaroba bisa berarti peralihan dari musim hujan ke kemarau, atau sebaliknya, tetapi yang dibahas di sini adalah kondisi sekarang: dari hujan ke kemarau. Berikut ini perawatan burung kicauan selama musim pancaroba dan kemarau.

Pada musim transisi ini, cuaca pagi hingga siang hari akan terasa lebih terik daripada biasanya, namun pada sore dan malam terasa dingin. Terkadang turun hujan lebat disertai angin kencang, dan petir. Pada saat seperti ini, semua jenis burung  akan merasakan dampaknya, terutama jika tidak diberi penanganan yang semestinya.

Musim pancaroba harus diimbangi 
dengan perawatan yang tepat bagi burung kicauan.
-
Selain itu, berbagai penyakit bisa muncul pada masa musim peralihan, terutama tetelo. Bagaimana cara mengamankan burung dari penyakit tetelo pada musim pancaroba, silakan buka kembali referensinya di sini.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam menghadapi musim pancaroba, salah satunya mengubah pola rawatan hariannya. Berikut ini uraiannnya.
1. Mengurangi porsi penjemuran
Saat ini, cuaca cukup terik sudah terasa sejak pagi hari. Karena itu, durasi penjemuran burung sebaiknya tidak berlebihan. Apabila biasanya burung dijemur hingga sebelum pukul 10.00 atau 11.00, saat ini lebih baik diangkat pada pukul 09.00.
Jika Anda terbiasa menjemur burung pukul 08.00 - 09.00, sebaiknya lama penjemuran  dipertimbangkan kembali. Burung bisa dijemur maksimal 1,5 – 2 jam saja, mengingat cuaca yang cukup panas tidak akan memberi manfaat apa-apa bagi burung kicauan, kecuali burung bertambah birahi.
Di alam liar pun, sebagian besar burung jarang berpanas-panas di bawah terik matahari secara langsung dalam waktu lama. Mereka umumnya hanya berjemur selama 15-30 menit, setelah itu kembali ke rimbun pepohonan.
2. Menjaga ketersediaan air minum
Pada kondisi suhu dan cuaca panas, burung akan lebih sering minum. Akibatnya, air dalam wadah minum cepat kosong. Beberapa jenis burung lebih mudah stres atau mengalami dehidrasi jika dalam beberapa jam tidak minum.
Karena itu, penting kiranya selalu menjaga ketersediaan air bersih dalam tempat minumnya. Kita perlu lebih sering memantau wadah minumnya. Jika hampir habis, segera tambahkan dengan air minum baru dan bersih.
Selain itu, wadah minum sering kotor akibat burung mandi atau berendam di dalamnya. Cuaca yang panas, membuat bulu burung cepat kering yang akhirnya membuat debu dan kotoran mudah menempel. Karena itu pula, burung sering terlihat berendam atau mandi dalam wadah air minumnya.
Pada musim pancaroba, apalagi beberapa daerah mulai memasuki musim kemarau, bahkan kekeringan seperti di NTB, maka hal terpenting dalam perawatan burung kicauan adalah selalu menyediakan air minum yang bersih.
3. Rutin membersihkan sangkar
Ketika burung sering menghabiskan air minumnya, maka saat itu pula burung akan sering mengeluarkan kotoran dalam bentuk cair. Hal ini dikarenakan burung tidak bisa membuang kelebihan air dalam tubuhnya melalui keringat, tetapi membuangnya melalui kotoran. Itu sebabnya, kenapa banyak kotoran burung yang sering terlihat berair pada masa musim pancaroba maupun pada musim kemarau.
Kotoran yang berair lebih cepat mengundang bakteri. Sebagai perawat, kita harus rutin membersihkan sangkar setiap hari, pagi dan sore hari, yaitu ketika burung dikeluarkan dan saat burung akan dimasukkan ke dalam rumah untuk beristirahat.
4. Full kerodong pada sore dan malam hari
Pada musim pancaroba, sebaiknya burung tidak terlalu sering ditinggal di luar ruangan, terutama setelah pukul 14.00. Pada waktu itu, burung sebaiknya mulai dikerodong jika cuaca mulai tidak bersahabat.
Angin kencang atau hujan deras biasanya akan terjadi pada waktu sore dan malam hari selama masa pancaroba, meski tidak setiap hari. Karena itu pula, disarankan segera memasukkan burung ke dalam ruangan jika kondisi cuaca di luar mulai menunjukkan perubahan.
Di dalam ruangan, hindari menggantung burung di tempat terlalu dekat dengan lubang angin atau ventilasi udara. Sebaiknya sangkar burung digantung di tengah ruangan atau jauh dari lubang / sumber angin.
5. Memberikan extra fooding secara lebih teratur
Selama pancaroba, juga nanti saat kemarau, burung cenderung lebih banyak minum. Akibatnya, burung mudah kenyang dan hanya mengkonsumsi sedikit pakan yang disediakan, dalam hal ini voer.
Karena itu pula, pakan tambahan seperti serangga atau buah-buahan harus diberikan lebih teratur agar kebutuhan nutrisi bagi burung tetap terpenuhi.
Pakan serangga yang baik diberikan kepada burung selama pancaroba dan kemarau adalah kroto. Tetapi jangkrik juga tetap diberikan. Untuk buah-buahan, pilihlah pepaya, mangga, atau buah yang mengandung banyak air.
Ulat hongkong untuk sementara bisa dikurangi. Kalaupun diberikan, ulat hongkong terlebih dulu diberi pakan pepaya, semangka, atau sayuran lainnya.
6. Memastikan burung tetap fit
Memastikan kondisi burung agar tetap fit sebenarnya tidak perlu menunggu musim pancaroba. Jika tidak fit, bagaimana burung bisa bunyi? Namun, anjuran ini tetap disertakan, agar kicaumania tetap fokus pada bagaimana memastikan burung tetap fit.
Apalagi dalam masa pancaroba, baik peralihan musim hujan ke musim kemarau, atau dari musim kemarau ke musim hujan, burung biasanya mudah sekali ngedrop. Vitamin merupakan salah satu jawaban paling realistis agar burung tetap fit, dan sistem kekebalan tubuhnya berfungsi dengan baik.

Sumber :  http://omkicau.com

Tiga upaya untuk membuat stamina cendet selalu oke dan siap gantang

Sebagian kicaumania masih enggan memelihara burung cendet karena menganggap perawatannya susah. Padahal cendet termasuk jenis burung yang pintar meniru suara lingkungan sekitanya, atau suara burung lain yang didengarnya. Bahkan perawatan burung cendet tidak sesulit yang anggapan selama ini, lantaran faktor utama yang diperlukan adalah menjaga stamina cendet selalu oke sehingga burung dalam kondisi siap gantang.
Cendet nagen
Jika stamina selalu oke, burung cendet pasti siap gantang.
-
Cendet merupakan burung aktif dan sangat atraktif. Sebagai burung dengan karakter predator, cendet harus memiliki stamina dan kondisi fisik benar-benar fit. Dengan begitu, mereka lebih cepat mencapai top form atau penampilan terbaiknya.
Itulah yang selama ini kerap diabaikan para cendetmania di Indonesia. Masih banyak yang menganggap cendet sama saja dengan burung kicauan jenis lainnya.
Menjaga stamina cendet agar tetap oke bisa dimulai dari perawatan hariannya. Dalam perawatan harian, ada tiga upaya yang bisa dilakukan untuk membuat stamina cendet selalu oke dan siap gantang, yaitu :
1. Sering memandikan untuk membangkitkan mental

Mandi bagi burung cendet adalah sesuatu hal yang bersifat wajib. Sebab burung akan merasa segar dan lebih percaya diri jika bulu-bulunya sudah bersih dan terlihat lebih indah.
Karena itu, sewaktu memandikan cendet, pastikan kalau bulu-bulunya benar-benar basah. Mandikan dia sampai merasa puas.
Dengan rutin memandikan burung setiap hari, atau bahkan dua kali sehari, baik dengan cara disemprot atau mandi karamba, maka Anda telah membantu menumbuhkan mental cendet sehingga siap berkicau dengan lantang.
Mandi juga sangat bermanfaat bagi cendet yang mengalami macet bunyi atau ketika berada dalam kondisi ngedrop. Mandi bisa menjadi sarana mempercepat pemulihan kondisi ngedrop, termasuk mandi malam.
2. Penjemuran rutin untuk melatih fisik
Cendet adalah burung lapangan, yang selalu aktif dan atraktif. Kebiasaannya bertengger d dahan pohon paling tinggi dilakukannya untuk memantau daerah kekuasannya dari keberadaan burung lain, hewan, atau serangga yang masuk wilayah mereka.
Karena sifatnya itu pula, cendet dikenal sebagai burung panas, atau burung yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca yang panas atau terik.
Dalam perawatan hariannya, burung cendet juga tidak bisa dilepaskan dari penjemuran yang kuat. Secara umum, cendet akan dijemur sejak pukul 07.00 hingga 10.00. Tetapi bagi cendet yang dipelihara di daerah berhawa sejuk, penjemuran bisa dilakukan lebih lama daripada biasanya.
Manfaat lain yang didapatkan dari penjemuran adalah suara kicauannya bisa menjadi lebih kristal atau kencang. Tubuh cendet pun terlihat lebih langsing, dengan kepala terlihat lebih besar. Hal itu juga akan membuat cendet lebih mudah nagen jika dilombakan.
3. Pakan berprotein tinggi untuk menjaga kondisi tetap fit
Salah satu faktor terpenting dalam menjaga kondisi burung cendet adalah pemberian pakan berprotein tinggi. Dalam perawatan harian, burung cendet bisa diberi jangkrik sebanyak 3-4 ekor, setiap pagi dan sore hari.
Namun dua hari menjelang lomba, extra fooding (EF) perlu ditingkatkan. Misalnya porsi jangkrik dinaikkan menjadi 7-10 ekor pada pagi dan sore hari. Lalu pada hari lomba, sebelum dibawa ke lapangan, cendet diberi pakan ulat hongkong.
Perawatan menjelang lomba dimaksudkan untuk menjaga kondisi cendet agar tetap stabil, tetapi memiliki birahinya optimal (cukup).
Selain pakan tinggi protein, burung cendet juga membutuhkan asupan pakan dari sumberlain. Misalnya diberi hewan-hewan kecil seperti kadal atau burung-burung kecil. Agar mentalnya stabil, mangsa alami bisa diberikan setiap dua minggu sekali.
Sebagai burung predator kecil yang cukup aktif, asupan nutrisi memang tak sepenuhnya bisa didapatkan dari pemberian pakan rutin seperti jangkrik, ulat, atau kroto. Asupan nutrisi juga bisa didapatkan secara langsung melalui pemberian suplemen vitamin yang bisa memberi manfaat banyak bagi burung kicauan termasuk cendet.


Sumber :  http://omkicau.com/